Rombongan Komisi II DPRK Mimika saat berkunjung ke SPBU Kokonao, Distrik Mimika Barat pada Jumat (12/6/2026)/Foto :husyen opa
TIMIKA, (taparemimika.com) – Demi memastikan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi warga maupun nelayan diwilayah Pesisir kabupaten Mimika, pada Jumat (12/6/2026), Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika meninjau langsung aktifitas Satuan Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina yang ada di Kampung Atapo Distrik Mimika Barat (Kokonao) Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.
Kunjungan kerja melihat langsung aktifitas pelayanan di SPBU Kokonao merupakan kegiatan Pengawasan Tahap ke II yang dilakukan oleh Komisi II DPRK Mimika. Dengan menggunakan transportasi sungai, rombongan Komisi II tiba di SPBU Kampung Atapo disambut langsung oleh penanggungjawab SPBI Hendri dan beberapa staff dan Kapolsek Mimika Barat Ipda Yani bersama sejumlah aparat kampung.
Rombongan Komisi II DPRK Mimika dipimpin langsung oleh Ketua Komisi, Dolfin Beanal, didampingi oleh Wakil Ketua Komisi, Mariunus Tandiseno, Sekretaris Komisi, Adrian Andhika Thie. Turut bersama rombongan anggota komisi lainnya, seperti Merry Pongutan, Dessy Putrika Ros Rante, Adolina Magal, Luther Beanal, Billy Zoani, Derek Tnouye dan Stefanus Onawame, bersama tenaga ahli dan staff Setwan DPRK Mimika.
Dihadapan rombongan Komisi II DPRK Mimika, Penanggungjawab sementara SPBU Pertamina Kokonao, Hendri mengaku stop BBM yang saat ini baru hanya melayani penjualan Pertamax dengan harga Rp 13.000 perliter sementara Pertalite belum melayani penjualan.

Anggota komisi II DPRK Mimika, Luther Beanal dan Wakil Ketua Komisi II, Mariunus Tandiseno/Foto : husyen opa
Sedangkan untuk suplay BBM dari Timika ke Kokonao, Hendri diakui selama ini berjalan lancar dan tidak pernah mengalami kekosongan. Ia mengaku bahwa jumlah kuota Pertamax berkisar dari 40 KL sampai 10 KL, dan kuota ini selama ini mampu melayani kebutuhan warga maupun untuk kebutuhan nelayan.
“Selama ini stok di SPBU ini berubah-rubah, tergantung kebutuhan masyarakat dan nelayan. Selama ini belum pernah terjadi kekosongan hanya saja suplaynya tidak terjadwal sesuai stok yang tersedia baru di order,”ungkapnya.
Ia mengaku selama ini banyak warga mengeluhkan karena belum bisa melayani jenis Pertalite sehingga masyarakat masih kesulitan soal tingginya harga Pertama.
“Selama ini hanya pertamax saja yang ada stok disni dan harganya agak mahal sehingga warga biasanya membeli pertalite dari Timika atau penjual eceran terdekat,”akunya.
Ketua Komisi II Dolfin Beanal berharap agar stok BBM jenis Pertalite juga dapat tersedia, sehingga masyarakat pesisir khususnya nelayan dapat membeli dengan harga yang terjangkau.

“Kita datang berkunjung ke SPBU Kokonao sini ingin memastikan apakah soal BBM khususnya warga di Pesisir dan Nelayan tidak kesulitan untuk mendapatkan. Dan kami berharap agar SPBU Kokonao sini dapat mengusulkan kepada Pertamina agar suplay pertalite juga bisa segera terealisasi, biar masyarakat lebih murah mendapatkan harga kebutuhan BBM,”tegas Dolfin Beanal.
Dolfin lebih lanjut mengatakan, bahwa adanya keluhan dari warga maupun nelayan karena harga Pertamax tergolong mahal, sehingga perlu segera ditindak lanjuti untuk ada stok Pertalite dan juga pemerintah diminta dapat memberikan subsidi pembelian BBM khususnya masyarakat asli Kamoro dan nelayan.
“Pemerintah perlu merealisasikan agar ada subsidi khusus pembelian BBM Pertamax dan Pertalite bagi masyarakat asli baik untuk kebutuhan transportasi biasa maupun untuk mencari hasil laut,”pintanya.
Selain meninjau aktifitas di SPBU Kokonao, rombongan Komisi II DPRK Mimika juga menyempatkan bertemu langsung dengan masyarakat di Kampung Atapo dan sekitar pelabuhan. Dilokasi ini Komisi II mendapatkan berbagai masukan dan usulan, selain soal BBM, infrastruktur juga terkait air bersih dan listrik agar bisa terlayani selama 24 jam. (opa)















