Suasana Pertemuan Hearing antara Komisi II DPRK Mimika dengan Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan), kabupaten Mimika pada Rabu (4/5/2025)/Foto : redaksi
TIMIKA, (taparemimika.com) – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika melakukan Rapat terbuka dalam rangka Hearing dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan), kabupaten Mimika pada Rabu (4/5/2025). Rapat Hearing yang berlangsung di ruang Rapat Komisi II DPRK Mimika lantai 2 tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Komisi II, Adrian Andhika Thie,S.Par, dan dihadiri juga oleh Ketua Komisi II, Dolfin Beanal didampingi Wakil Ketua Komisi Mariunus Tandiseno, dan anggota diantaranya, Billianus Zoani, Adolina Magal, Luther Beanal dan Dessy Putrika Ros Rante,SE.
Hadir dalam hearing tersebut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan), Sabelina Fitriani bersama sejumlah Kabid, Kepala Seksi dan Staff. Salah satu isu yang mengemuka adalah persoalan harga babi di Kabupaten Mimika yang terus melonjak dan meningkat sebagai salah satu indicator penyumbang inflasi pada bulan Mei 2025.
Selain membahas soal harga Babi yang melonjak, mereka Komisi II dan Dinas, membahas berbagai persoalan terkait dengan tupoksi Disnakeswan serta realissi program di tahun 2024 dan capaian program di tahun anggaran 2025 saat ini.
Salah satu hal yang menjadi hangat dalam hearing tersebut, bagaimana mencari solusi mengenai harga babi di Mimika yang mengalami kenaikan. Tak hanya harga anak babi, tapi juga daging babi yang naik tinggi. Dari Disnakeswan Mimika menjelaskan awal mula naiknya harga babi akibat wabah ASF, produksi daging babi berdasarkan hitungan pemotongan oleh Disnakeswan di rumah potong hewan sebanyak 500 kilogram perhari.

Suasana Pertemuan Hearing antara Komisi II DPRK Mimika dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Mimika, Rabu (4/6/2025)/Foto : redaksi
Kepala Disnakeswan Mimika, Sabelina Fitriani menjelaskan, harga babi yang mahal mulai dari anak babi yang kini berada di harga 4-5 juta per-ekor. Sementara daging babi sendiri naik dari 90-110 ribu kini berkisar di harga Rp200-250 ribu perkilo.
“Jadi pemotong di pasar mereka jual babi mahal dan mereka katakan dari peternak mahal, peternak bilang mahal karena anak babi mahal ini persoalan yang harus diputus mata rantainya,” jelasnya ketika diwawancarai usai RDP.
Ia menjelaskan pihak Disnakeswan juga melihat di lapangan saat ini anak babi sebenarnya sudah mulai banyak dan peternak saat ini sudah mulai recovery (pasca wabah ASF) sehingga ia berharap agar masyarakat khususnya pedagang babi maupun daging babi bisa memahami untuk menurunkan harga.
“Karena kalau tidak turun, harga tetap melambung tinggi, inflasi tetap melambung tinggi, masyarakat yang mau mengkonsumsi daging babi kesulitan karena harga terlalu tinggi. Dan masyarakat mampu untuk membeli daging ataupun anak babi,” ungkapnya.
Ia juga menerangkan, mengenai pakan bukan menjadi faktor yang menyebabkan harga yang mahal sebab pakan ternak babi memang mengalami kenaikan namun tidak terlalu signifikan.
“Dan kami juga ada pakan alternatif kok, dinas itu sebetulnya ada pakan alternatif, masyarakat juga sudah bisa membuat kalau mereka bisa membuat dan itu pakan alternatif ini kan yang dari jagung, kemudian dedak dan konsentrat. Kemudian sebagai pakan alternatif pada saat misalnya di toko tidak ada, jadi itu juga menunjukan peningkatan berat badan,” ujarnya.
Sehingga faktor utama karena jumlah babi namun harusnya masyarakat menurunkan harga tersebu.
“Kalau kemarin memang jumlahnya sedikit sekali tapi sekarang kan jumlah anak babi sudah banyak jadi kalau ini melambung tinggi itu kan sudah menjadi hal yang tidak masuk akal,” jelasnya.
Sabelina Fitriani menjelaskan untuk menekan harga anak babi maupun daging babi yang mahal mereka akan mendatangkan anak babi (bibit) dari luar Timika.
“Kita upaya salah satunya adalah kita akan datangkan anak babi dari luar untuk menekan harga ini, karena harga babi sangat mahal dan jumlahnya masih terbatas,” jelasnya.
Sementara dari kalangan Komisi II menyampaikan tentang keresahan warga terkait harga babi di Mimika menjadi salah satu catatan khusus untuk diperjuangkan dan menjadi fokus para anggota DPRK untuk mengembalikan harga normal.
Sekertaris Komisi II DPRK Mimika, Adrian Andhika Thie menjelaskan pihaknya telah mendengar beberapa program-program yang dilaksanakan oleh Disnakeswan mulai dari pengembangan, dan pengadaan pembibitan babi untuk menekan harga babi.
“Kita cari solusi bersama sama dengan pemerintah kami juga (dewan) siap untuk mengawas dan mensupport apa yang bisa kami lakukan untuk program ini bisa membantu pangan lokal di Mimika bisa harga normal agar bisa memproduksi lebih banyak, dimana dulu Timika menjadi swasembada babi, kita bisa kembalikan itu,” ungkapnya.
Dimana akibat wabah ASF mengakibatkan lebih dari 10 ribu ekor babi di Timika mati dan peternak banyak yang mengalami kerugian sehingga kini Timika tak lagi swasembada daging babi dan harganya melaju tinggi.
“Tapi di pasaran juga bisa sampai, 190-200 perpotong , yangmana itu harapnya kembali ke normal sekitar 90-110 ribu maupun bisa rendah,” ujarnya. Sehingga menurutnya solusi yang bisa dilakukan yaitu mendatangkan anak babi dari luar.

Foto bersama/Foto : redaksi
Sementara Ketua Komisi II, Dolfin Beanal menuturkan pihaknya sudah memberikan saran kepada Disnakeswan yang memiliki kandang untuk pengelolaan babi yang beralamat di SP6 yang kini disana ada sekitar 30 ekor indukan.
“Kita siap support dari dewan untuk bagaimana membantu bahwa kedepan fasilitas ini ditambah lagi jadi fasilitas tempat, untuk induk babi, agar dari situ istilahnya dari situ harga lebih murah,”terangnya kepada wartawan usai pertemuan.
Masih kata Dolfin, bahwa saat ini kita tidak punya kuantitas cukup untuk salurkan keluar ke masyarakat, mau tidak mau seperti informasi dari Disnakeswan ada penambahan sekitar 400 ekor babi anakan bibit, bibit ini kan kita bicara umur tertentu lalu dipotong ini kita harus bisa pikir selain anakan bibit ini kita datangkan juga persiapan induk babi supaya kita punya proses kedepan kita tidak perlu salurkan lagi dari luar, kita bisa ciptakan sendiri bagaimana produksi sendiri daging babi dari Mimika,” pungkasnya.
Sejumlah dewan dari Komisi II berharap ada terobosan atau program yang bisa menjawab kebutuhan bibit dan induk serta daging babi per kilo dipasaran tidak mencek warga dimana harga yang dulunya perkilo Rp 90.000 kini sudah mencapai Rp 190.000 /perkilo bahkan capai harga Rp 200.000 perkilo.
Begitu juga dengan harga anak babi yang awalnya sebelum wabah hanya dibeli dengan harga Rp 2.000.000 perekor, kini mencapai Rp 4.000.000. Sehingga warga masyarakat yang terbebani dengan harga mahal. Karena itu, dewan berharap bisa mengusulkan program pembeliaan bibit dari luar dan penambahan induk babi. (tm1)














