Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kehormatan Partai, Komarudin Watubun saat membuka secara resmi Musancab PDI Perjuangan Kabupaten Mimika, Minggu (26/4/2026)/Foto : redaksi
TIMIKA, (taparemimika.com) – Menghadiri Musyawarah Anak Cabang (PAC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Kabupaten Mimika tahun 2026, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan, Komarudin Watubun,SH,MH menekankan betapa pentingnya kaderisasi bagi generasi muda serta tidak berhentinya dunia politik.
Hal tersebut ditegaskan Komarudin Watubun selaku Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kehormatan sekaligus Partai Mahkamah Partai PDI Perjuangan dihadapan ratusan Pengurus DPC,PAC dan kader partai berlambang Banteng Moncong Putih dalam Musancab 18 Distrik PDI Perjuangan se kabupaten Mimika yang berlangsung di Ballroom Hotel Grand Tembaga, Timika, Kabupaten Mimika Provinsi Papua Tengah, pada Minggu (26/4/2026).
Musancab tersebut dihadiri oleh Ketua DPP Bidang Kehormatan PDI-Perjuangan, Komarudin Watubun, Ketua DPD PDI-Perjuangan Provinsi Papua Tengah, Dr. Yuni Wonda, Ketua DPC PDI-Perjuangan Kabupaten Mimika, Adrian Andika Thie, Bupati Mimika, Johannes Rettob, para anggota DPRP Papua Tengah, DPRK Mimika dari PDI-Perjuangan, dan para kader serta simpatisan.
Membuka Musyawarah Anak Cabang (Musancab) PDI-Perjuangan Kabupaten Mimika, Ketua DPP Bidang Kehormatan PDI-Perjuangan Komarudin Watubun mengatakan, kaderisasi sangat penting dan mengajak generasi muda untuk tidak meninggalkan dunia politik.

Ketua DPC PDI Perjuangan Mimika, Adrian Andhika Thie saat menyampaikan Perayaan dalam pembukaan Musancab PDI Perjuangan Mimika, Minggu (26/4/2026)/Foto : redaksi
Di hadapan pengurus DPC dan PAC, Komarudin mengaku terkesan dengan semangat kader di Mimika yang dinilainya luar biasa. Apalagi hal itu menjadi alasan kuat dirinya hadir langsung di forum tersebut.
“Saya sangat semangat melihat semangat teman-teman DPC dan PAC. Semangatnya bagus sekali, makanya saya hadir,” ujarnya.
Komarudin kemudian berbagi pengalaman perjalanan politiknya yang dimulai dari tingkat bawah. Ia pernah menjadi pengurus PAC di Jayapura Selatan sebelum akhirnya menduduki posisi di tingkat pusat.
“Saya dulu seperti kalian, dari PAC juga. Siapa tahu dari kalian ada yang bisa sampai ke DPP seperti saya. Hidup dan nasib tidak ada yang tahu,” ungkapnya, memotivasi kader agar terus berproses.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa partai politik tidak boleh dijadikan alat untuk kepentingan sesaat, seperti pemilu atau ambisi pribadi. Dalam sistem demokrasi, partai politik adalah instrumen utama negara yang memiliki peran strategis dalam menentukan arah kebijakan.
“Partai politik tidak bisa didirikan untuk kepentingan pribadi atau hanya untuk pemilu. Suka atau tidak suka, partai adalah instrumen utama dalam negara demokrasi,” tegasnya.
Komarudin juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi partai politik saat ini, yakni rendahnya minat generasi muda, khususnya Gen Z, yang cenderung memandang politik secara negatif.
“Gen Z banyak yang menganggap partai itu “kotor”. Tapi pesan saya, jika kalian tidak masuk dan mengisi partai, maka tidak akan ada perubahan. Justru perubahan itu harus dimulai dari dalam,” katanya.
Ia menilai fenomena tersebut berdampak pada stagnasi kaderisasi, baik di tingkat nasional maupun global, yang ditandai dengan dominasi pemimpin berusia tua. Kondisi ini, menurutnya, harus segera diubah dengan mendorong keterlibatan aktif generasi muda.
Komarudin juga mengkritik praktik politik pragmatis pascareformasi, di mana perpindahan kader partai antar kerap terjadi demi kepentingan jabatan. Ia menilai hal tersebut merusak proses kaderisasi dan komitmen ideologi partai.
Komarudin juga mengkritik praktik politik pragmatis pascareformasi, di mana perpindahan kader partai antar kerap terjadi demi kepentingan jabatan. Ia menilai hal tersebut merusak proses kaderisasi dan komitmen ideologi partai.

Foto bersama Ketua DPP PDI Perjuangan, Komarudin Watubun bersama Ketua DPD PDI Perjuangan Papua Tengah, Yuni Wonda, Sekretaris Mathias Refra, Bendahara Yohanis Felix Helyanan, Bupati Mimika, Johannes Rettob, Ketua DPC PDI Perjuangan Mimika, Adrian Andhika Thie, Bendahara DPC PDIP Mimika Yosef Nawipa, Sekretaris Fraksi PDIP DPRK Mimika, Simson Gujangge/Foto : redaksi
“PAC adalah ujung tombak partai. Kalian yang langsung berhadapan dengan rakyat, jadi harus punya komitmen yang jelas dalam berpartai,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua DPC PDI-Perjuangan Kabupaten Mimika, Adrian Andika Thie dalam sambutannya mengatakan, Musancab ini bukan sekadar agenda organisasi, melainkan agenda strategis dalam membangun fondasi partai yang lebih kokoh.
“Ini menjadi kebanggaan bagi kami karena baru pertama kali Musancab dilaksanakan. Kami juga merasa terhormat karena dihadiri langsung oleh Ketua DPP Bidang Kehormatan, Bapak Komarudin Watubun,” ujarnya.
Menurut Adrian, kehadiran jajaran DPP menjadi dorongan moral bagi seluruh kader di Mimika untuk menjadikan PDI Perjuangan sebagai contoh dan teladan, baik dalam berperilaku maupun dalam membangun partai sebagai “rumah bersama” yang ia ibaratkan sebagai honai atau tapare bagi seluruh kader.
Ia pun mengajak seluruh pengurus anak cabang untuk aktif berkontribusi, tidak hanya secara struktural tetapi juga melalui pemikiran dan gagasan yang membangun demi kemajuan partai.
“PDI Perjuangan adalah partai ideologi. Kekuatan kita bukan hanya pada struktur, tetapi pada kesadaran politik dan nilai-nilai perjuangan, seperti keberpihakan kepada rakyat, keadilan sosial, dan kedaulatan politik,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan tiga hal utama yang harus menjadi fokus dalam Musancab.
Pertama, peneguhan ideologi dan arah perjuangan agar setiap kader, khususnya di tingkat anak cabang, benar-benar memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai partai dalam kerja nyata di tengah masyarakat.
Kedua, penguatan struktur organisasi yang efektif dan berintegritas. Ia menegaskan bahwa struktur partai harus diisi oleh kader-kader yang tidak hanya memiliki integritas, tetapi juga dedikasi dan komitmen tinggi.
Ketiga, pengembangan kerja politik yang responsif dan berbasis keadilan rakyat. Menurutnya, ke depan partai harus semakin adaptif dengan pendekatan berbasis data serta menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat.
“Musancab ini harus kita tempatkan sebagai ruang pengabdian, bukan sekadar ajang kepemimpinan. Amanat yang diemban adalah untuk bekerja dan melayani, bukan sekadar posisi yang dimiliki,” pungkasnya.
Sementara itu pada kesempatan yang sama, Ketua DPD PDI-Perjuangan Provinsi Papua Tengah, Dr. Yuni Wonda dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada DPC dan seluruh pengurus anak cabang yang hadir dengan “wajah petarung” dan semangat luar biasa sebagai kader partai.
“Saya secara pribadi menyampaikan terima kasih setinggi-tingginya kepada seluruh pengurus DPC dan anak cabang yang hadir dengan semangat juang yang luar biasa,” ujarnya.
Dengan keputusan tersebut, seluruh struktur partai di Indonesia diinstruksikan untuk melaksanakan konsolidasi melalui Konferda, Konfercab, hingga Musancab.
“Ini adalah agenda nasional. Seluruh pengurus dari tingkat DPD, DPC, PAC hingga mengomel wajib melaksanakan tahapan konsolidasi partai, dan hari ini Mimika telah menjalankan Musancab sebagai bagian dari itu,” tegasnya.
Menurut Yuni, kekuatan utama partai terletak pada soliditas dan konsolidasi hingga ke akar rumput. Ia mengingatkan bahwa jabatan dalam struktur partai bukan sekedar kepercayaan semata, melainkan tanggung jawab besar untuk menggerakkan organisasi secara nyata di tengah masyarakat.
“Tugas kita bukan hanya duduk sebagai pengurus, tapi bagaimana memastikan partai ini benar-benar mengakar ke bawah. Kita harus turun langsung, konsolidasi dengan masyarakat. Tanpa itu, partai tidak akan berjalan maksimal,” katanya.
Ia juga menyoroti keberhasilan PDI Perjuangan di Papua Tengah sebagai bukti nyata dari kerja konsolidasi yang solid. Salah satunya adalah keberhasilan mengantarkan kader menjadi gubernur serta tercapainya 11 kursi legislatif di provinsi tersebut. (tm1)














