CATATAN DARI SMAN 3 KOKONAO JUARAI MINISOCCER KAPOLDA PAPUA TENGAH CUP II : PERTANDINGAN TIDAK DIMENANGKAN OLEH SIAPA YANG PALING LENGKAP FASILITASNYA MELAINKAN SIAPA YANG KERJA KERAS

Kapolda Papua Tengah, Brigjend Polisi Jeremias Rontini,SIK,M.SI saat Foto bersama dengan Tim Mini Soccer SMAN 3 Kokonao bersaam legenda Persipura Jayapura, Boas Salossa dan Titus Bonai/Foto : istimewa

TIMIKA, (taparemimika.com) – Kemenangan SMAN 3 Kokonao, Distrik Mimika Barat, kabupaten Mimika, Papua Tengah dalam ajang Mini Soccer Kapolda Papua Tengah Cup tingkat SMA/SMak bukan sekadar cerita tentang siapa yang mengangkat trofi juara. Lebih dari itu, kemenangan tersebut menjadi simbol perjuangan anak-anak dari daerah terpencil yang selama ini jarang mendapat perhatian, namun mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih prestasi.

SMAN 3 Kokonao datang dari Distrik Mimika Barat, wilayah pesisir tua di Kabupaten Mimika yang berada di tepian Laut Arafura. Untuk menuju Kota Timika saja, mereka harus menempuh perjalanan laut dan sungai selama berjam-jam. Akses yang sulit, minim fasilitas olahraga, hingga jauhnya perhatian pembangunan membuat banyak orang mungkin tidak pernah membayangkan lahirnya tim juara dari daerah tersebut. Namun justru dari tempat sederhana itulah lahir semangat besar.

Anak-anak Kokonao datang ke turnamen tanpa kemewahan fasilitas latihan seperti sekolah-sekolah di kota. Mereka tidak memiliki lapangan olahraga yang lengkap ataupun sarana pendukung yang memadai. Bahkan sejak awal kompetisi, mereka kerap dianggap remeh karena berasal dari kampung yang jauh dari pusat kota.

Tetapi sepak bola mengajarkan satu hal penting, bahwa pertandingan tidak dimenangkan oleh siapa yang paling lengkap fasilitasnya, melainkan siapa yang paling kuat semangat dan kerja kerasnya.

SMAN 3 Kokonao menjawab semua keraguan itu di atas lapangan yang diselenggarakan di lapangan Gold Stone Arena Mini Soccer Timika, Kabupaten Mimika.

Mereka tampil penuh percaya diri, menunjukkan kecepatan, teknik dan kekuatan fisik yang luar biasa hingga akhirnya keluar sebagai juara setelah mengalahkan SMA Taruna Timika dengan skor telak 3-0 di partai final, Kamis (21/5/2026).

Kemenangan tersebut bukan hanya milik para pemain dan sekolah, tetapi menjadi kemenangan seluruh masyarakat Kokonao. Di kampung mereka, orang tua hingga masyarakat rela meninggalkan aktivitas demi menonton pertandingan melalui layar lebar sederhana yang dipasang di Polsek Mimika Barat. Dukungan itu menunjukkan betapa besar harapan masyarakat terhadap generasi muda mereka.

Ada kebanggaan yang tumbuh ketika melihat anak-anak kampung mereka mampu bersaing dengan sekolah-sekolah besar di Kota Timika. Bahkan bagi masyarakat Kokonao, keberhasilan itu terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

Kini, anak-anak Kokonao pulang membawa lebih dari sekadar trofi juara. Mereka pulang membawa harapan baru.

Dari kampung kecil di pesisir Laut Arafura, mimpi-mimpi itu mulai tumbuh. Mimpi untuk menjadi pemain sepak bola profesional. Mimpi untuk suatu hari bermain di stadion besar. Dan mimpi untuk membuktikan bahwa anak-anak dari daerah terpencil Papua juga mampu berdiri sejajar dengan siapa saja.

Kisah SMAN 3 Kokonao juga menjadi pengingat bahwa anak-anak Papua memiliki begitu banyak talenta hebat yang selama ini belum terlihat karena minimnya ruang dan kesempatan. Turnamen seperti Mini Soccer Kapolda Cup menjadi bukti bahwa ketika anak-anak Papua diberi panggung, mereka mampu menunjukkan kemampuan luar biasa, yang kelak bisa melahirkan legenda sepak bola seperti Boaz Solossa atau pemain timnas futsal Evan Soumelina.

Perjalanan SMAN 3 Kokonao akhirnya bukan hanya tentang sepak bola, tetapi tentang keberanian melawan keterbatasan, tentang semangat untuk tidak menyerah dan tentang mimpi besar yang lahir dari kampung kecil di ujung Laut Arafura.

Salah satu pemain SMAN 3 Kokonao, Edison Atury, mengaku bangga atas pencapaian timnya dalam turnamen tersebut. Baginya, kemenangan itu menjadi prestasi besar yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Saya bangga bisa mengikuti kompetisi ini. Ini menjadi prestasi yang besar bisa kami peroleh sejauh ini, baik untuk sekolah maupun buat daerah kami. Karena selama ini kami sangat minim mengikuti kompetisi seperti ini. Terima kasih kepada sekolah, guru, polisi, bapak Kapolsek, yang telah memfasilitasi kami,” katanya.

Tak hanya membawa pulang gelar juara, Edison juga berhasil meraih penghargaan individu dalam turnamen tersebut. Ia mengaku terharu karena masyarakat Kokonao memberikan dukungan penuh kepada tim mereka meskipun hanya melalui layar lebar sederhana yang dipasang di Polsek Mimika Barat.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Kapolda yang telah menyelenggarakan pertandingan ini. Setelah ini saya akan bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional. Kemenangan ini kami berikan kepada keluarga kami di Kokonao dan seluruh masyarakat disana, tidak sabar pulang dan mengarak piala ini di kampung,” ujarnya penuh haru.

Di Kokonao sendiri, suasana final terasa seperti pesta rakyat kecil. Mendengar anak-anak mereka berhasil menembus partai final, masyarakat dan para orang tua rela meninggalkan aktivitas sehari-hari demi menyaksikan pertandingan.

Layar lebar sederhana dipasang di Polsek Mimika Barat agar warga dapat menonton pertandingan melalui siaran media sosial yang diputar panitia. Anak-anak, orang tua hingga tokoh masyarakat berkumpul bersama menyaksikan perjuangan tim kebanggaan mereka.

Kapolsek Mimika Barat Ipda Muhamad Yani mengatakan antusias masyarakat sangat luar biasa karena pertandingan tersebut menjadi momen besar bagi anak-anak Kokonao.

“Ini salah satu pertandingan terbesar yang pernah diikuti anak-anak di sini. Orang tua merasa perlu mendukung dan memberikan semangat walaupun dengan kondisi seadanya,” katanya.

Menurutnya, pihak kepolisian awalnya tidak menyangka antusias masyarakat akan sebesar itu. Namun rasa bangga terhadap perjuangan anak-anak mereka membuat warga rela meninggalkan pekerjaan demi menonton pertandingan bersama.

“Kami sendiri awalnya tidak berpikir sejauh ini. Ternyata para orang tua dan anak-anak rela meninggalkan aktivitasnya hanya menunggu anaknya bertanding. Ya kira-kira seperti menonton piala dunia, apalagi tim kita bisa menang,” ujarnya.

Kapolda Papua Tengah Berjanji Akan Menjadi Fasilitator Bagi Masyarakat

Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Jermias Rontini menegaskan dirinya ingin hadir bukan hanya sebagai pimpinan kepolisian, tetapi juga menjadi fasilitator bagi masyarakat Papua Tengah, termasuk membantu mewujudkan mimpi anak-anak muda di daerah tersebut.

Menurutnya, banyak anak-anak Papua Tengah memiliki bakat dan potensi luar biasa, khususnya di bidang olahraga, namun sering terkendala akses, fasilitas dan kesempatan untuk berkembang. Karena itu, ia berkomitmen membuka ruang pembinaan melalui berbagai kegiatan positif, salah satunya turnamen Mini Soccer Kapolda Cup.

“Di sisa masa tugas saya 6 tahun lagi, Saya ingin melalui jabatan yang saya miliki ini bisa berdampak untuk masyarakat, terutama anak-anak Papua Tengah. Kita harus menjadi fasilitator bagi mereka agar mimpi-mimpi itu bisa tumbuh dan diwujudkan,” ujar Kapolda.

Ia mengatakan keberhasilan SMAN 3 Kokonao menjadi juara Mini Soccer Kapolda Cup membuktikan bahwa anak-anak dari daerah terpencil pun memiliki kemampuan besar apabila diberi kesempatan tampil.

Kapolda mengaku terkesan melihat perjuangan para pelajar dari Kokonao yang rela menempuh perjalanan jauh melalui laut dan sungai demi mengikuti kompetisi hingga akhirnya keluar sebagai juara.

“Melihat tim Kokonao tadi, siapa yang tau mereka memiliki teknik, kecepatan, skill bahkan memiliki fisik yang kuat. Kalau tidak ada turnamen seperti ini, bakat seperti anak-anak kita dari Kokonao ini pasti tidak akan pernah kita lihat,” pungkasnya.

“Anak-anak ini punya mimpi besar. Tugas kita adalah membuka jalan supaya mereka bisa berkembang. Jangan sampai bakat mereka hilang karena tidak ada perhatian atau wadah,” katanya lagi.

Ia pun berjanji akan terus melanjutkan turnamen olahraga dan kegiatan pembinaan generasi muda secara berkelanjutan agar semakin banyak anak Papua Tengah yang mampu meraih prestasi.

“Kalau ada anak-anak Papua yang nanti bisa menjadi pemain profesional atau membela Indonesia, tentu itu menjadi kebanggaan kita semua. Karena itu saya ingin kegiatan seperti ini terus berjalan,” pungkasnya. (tm1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *