Komisi II DPRK Mimika Tinjau Pasar Sentral Timika, Soroti Penataan, Retribusi, dan Kebersihan

Suasana kegiatan hearing Komisi II Dewan DPRK Mimika di Pasar Sentral Timika, Rabu (14/1/2026)/Foto : Istimewa

TIMIKA, (taparemimika.com) – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Mimika (DPRK Mimika) menggelar kegiatan hearing dengan meninjau langsung Pasar Sentral Timika, guna melihat kondisi pasar serta mendengar aspirasi para pedagang.

Rombongan Komisi II dipimpin langsung oleh Ketua Komisi II, Dolfin Beanal, didampingi anggota lainnya yakni Stefanus Onawame, Adolina Beanal, Bilianus Zoani, Luther Beanal, dan Dessy Putrika Ross Rante.

Dalam peninjauan tersebut, Komisi II meminta kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika  agar melakukan penataan ulang Pasar Sentral Timika sehingga tidak terjadi tumpang tindih antar lapak. Penataan khusus juga diminta bagi lapak pedagang Orang Asli Papua (OAP) agar tidak terpinggirkan.

Dolfin Beanal menyoroti perlunya renovasi fasilitas pasar yang rusak, penyediaan air bersih, serta toilet yang harus digratiskan tanpa pungutan biaya. Pengelolaan kebersihan dan pengangkutan sampah juga diminta menjadi perhatian serius. Penguatan dan penghidupan UMKM disebut sebagai hal penting yang harus menjadi fokus ke depan.

Stefanus Onawame berharap agar pedaganh ikan dalam menjual ikan harus kondisi ikannya baik sehingga layak untuk konsumsi.

Menurutnya, hal ini harus jadi perhatian serius para pedagang, selain itu termasuk menjaga kebersihan lapak penjualan ikan jadi sorotan.

Adolina Beanal menyampaikan aspirasi mama-mama pedagang yang berharap adanya bantuan berupa kursi atau tempat duduk untuk menunjang aktivitas jual beli.

Bilianus Zoani menekankan pentingnya pengaturan ulang area parkir dan pangkalan ojek yang saat ini terlihat semrawut.

Ia menegaskan bahwa area parkir tidak boleh digabungkan dengan pangkalan ojek.

Luther Beanal menyebutkan bahwa penataan pasar harus menjadi perhatian utama karena retribusi pasar merupakan salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar. Ia juga meminta agar ruko-ruko yang kosong segera diisi agar tidak menimbulkan kesan terbengkalai.

Dessy Putrika Ross Rante menyoroti penataan los-los pasar serta persoalan penagihan retribusi yang dinilai tidak seragam.

“Tadi di lapangan ditemukan keluhan retribusi yang ditarik dengan nominal dan waktu yang berbeda-beda, dari 2 ribu – 5 ribu, bahkan ada penagihan berulang dengan alasan kepemilikan lapak. Hal ini menunjukkan pengawasan Disperindag belum berjalan maksimal,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menilai perawatan pasar tidak berjalan dengan baik dan menyarankan agar pengelolaan pasar dapat melibatkan pihak ketiga.

Sementara itu, tempat pemotongan hewan dinilai sudah sangat baik, namun disarankan agar dikelola oleh BUMD.

Sementara Ketua Forum Pedagang Pasar Sentral, La Sarudi berharap agar Pasar Sentral Timika ditata lagi.

Ia juga meminta agar retribusi pasar disosialisasikan kembali sesuai peraturan daerah karena terdapat kejanggalan ukuran lapak dan tagihan retribusi yang tidak sesuai ketentuan.

Kendati demikian, Ia juga mengusulkan agar pintu masuk pasar Sentral dibuka di bagian tengah. Menurutnya, posisi pintu masuk dan keluar yang berada di ujung gedung saat ini membuat Los A1 dan A2 seakan terabaikan dan tidak terlihat oleh pengunjung. (tm1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *