Massa dari pendulang tradisional di Timika melakukan aksi blokade jalan karena tidak ada solusi soal hasil yang mereka dapatkan/Foto : istimewa
TIMIKA, (taparemimika.com) – Para pendulang tradisional di Timika, Kabupaten Mimika Papua Tengah kembali menggelar aksi palang di Jalan Ahmad Yani, tepatnya di pertigaan Pin Seluler hingga, pertigaan Gorong-gorong, Kelurahan Koperapoka, kabupaten Mimika pada Rabu (25/03/2026).
Dari pantauan wartawan selain melakukan blokade jalan dengan menggunakan kayu, seng, juga terlihat melakukan aksi bakar ban bekas dan karton di tengah jalan.
Dengan adanya aksi itu membuat arus lalu lintas dilokasi tersebut sementara terhenti. Pihak kepolisian yang mendatangi lokasi langsung melakukan pengamanan agar situasi tetap kondusif aman serta koordinasi dengan para pendulang.
Kasat Sabhara Polres Mimika, AKP Frengky Tethool berharap kepada para pendulang untuk tidak melakukan anarkis dan harus menjaga kamtibmas.
“Kita hadir disini di tengah-tengah masyarakat sebagai penegak hukum. Jadi apapun yang kalian sampaikan akan kami sampaikan ke pimpinan dan tolong jaga kamtibmas dengan baik. Sekali lagi kami mohon untuk sama-sama jaga kamtibmas,”ucapnya saat bertemu dengan para pendulang.
Sementara itu mewakili sesama pendulang, Juan menyampaikan bahwa alasan dilakukan aksi ini karena sejak semalam hingga hari ini tidak ada solusi sama sekali.
“Tadi malam kita sudah bicara dan seharusnya pagi ini toko emas ini semua buka makan akan aman-aman saja. Kita buat aksi ini karena tidak ada solisi yang baik dari tadi malam sampai pagi ini,” katanya.
Lanjutnya,”Inilah alasan mendasar kami lakukan aksi ini. Anak dan istri kami tidak bisa makan karena kami sudah kerja setengah mati mendulang baru tidak dibeli. Kami tidak ditunggangi oleh siapapun, kami jalan karena atas dasar hati dan karena kami lapar,”sambungnya.
Ia juga menyayangkan di tengah-tengah aksi tidak ada satu pun koordinator pendulang yang hadir untuk bersama-sama mencari solusi.
“Kita jalan saat ini seperti ayam tanpa kepala, koordinator pendulang sampai saat ini satupun tidak tunjuk muka sama sekali. Karena kami butuh koordinator kami punya nasib ini, sebab pihak pembeli emas sudah angkat tangan,”ungkap Juan.
Menurutnya, jika pengusaha atau pembeli emas tidak mau membeli hasil dulang, maka resikonya harus ditutup tempat usahanya.
“Jika memang tidak bisa, tempat usahanya dicabut, karena banyak investor dari luar yang mau tampung kita punya hasil dulang. Kalau bisa pemerintah fasilitasi kami dengan koperasi merah putih biar tadah kami punya hasil dulang,” ujarnya.
Selain itu dirinya juga berharap kepada pemerintah daerah apabila melihat ini segera turun dan mendengarkan aspirasi.
“Kami harap kalau pihak pmerintah lihat ini, tolong turun langsung kesini dan lihat kami punya aspirasi,” ucap Juan.
Tak lupa dirinya juga menyampaikan kepada para pendulang lainnya untuk tetap menjaga kamtibmas.
“Polisi ada ditengah -tengah kita ini untuk menjaga kenyamanan dan kamtibmas buat kita semua, jadi mohon maaf sebelumnya siapa yang melakukan anarkis maka itu intern dia sendiri. Mari satu sama lain saling mengingat supaya jangan melakukan anarkis dan tolong terkontrol serta dewasa dalam melakukan tindakan,”ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut seorang ibu-ibu meminta agar pemilik dari toko-toko emas agar bisa bertemu dengan para pendulang dan menyampaikan secara terbuka alasannya.
“Kalau alasan bilang tidak ada uang beli emas, itu alasan tidak masuk akal, jadi tolong tunjuk muka dan sampaikan yang pasti ke kami supaya bagaimana caranya datangkan pembeli dari luar, ” pintanya. (tm1)














