Suasana Ibadah Jumat Agung di Gereja St. Petrus SP 1, Timika, Kabupaten Mimika Pada Jumat (3/4/2026)/Foto : redaksi
TIMIKA,(taparemimika.com) – Suasana hening dan penuh khidmat mewarnai ibadat Jumat Agung yang dilaksanakan di Gereja St. Petrus SP 1, Jumat (3/4/2026). Ratusan umat Katolik dari berbagai lingkungan mengikuti perayaan ini sebagai bagian dari rangkaian Tri Hari Suci.
Ibadat dimulai dalam suasana tenang tanpa iringan musik, mencerminkan suasana duka atas wafatnya Yesus Kristus di kayu salib. Umat diajak memasuki permenungan mendalam melalui pembacaan Kisah Sengsara Yesus Kristus yang menggambarkan penderitaan hingga penyaliban-Nya.
Selama ibadat berlangsung, umat tampak mengikuti dengan penuh penghayatan dalam suasana hening.
Salah satu momen paling sakral dalam perayaan ini adalah prosesi penghormatan salib. Secara bergiliran, umat maju ke depan untuk mencium salib sebagai ungkapan iman dan penghormatan atas pengorbanan Kristus bagi keselamatan manusia.
Dalam khotbahnya, Pastor Tarsi, OFM menegaskan bahwa kisah sengsara Yesus membawa pesan yang berlawanan dengan nilai-nilai dunia yang sering dipenuhi ambisi dan kepentingan pribadi.
“Di tengah dunia yang mengejar kekuasaan, Yesus menunjukkan kerendahan hati, penyerahan diri, dan kasih tanpa syarat,” ujarnya.
Ia juga mengajak umat untuk memahami bahwa pengalaman jatuh dalam hidup bukanlah akhir dari segalanya.
“Jatuh bukanlah akhir. Dalam iman, itu adalah bagian dari proses untuk bangkit, memahami, dan memperbarui diri,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Jumat Agung menjadi pengingat akan inti ajaran kasih dan pengampunan sebagaimana diteladankan Yesus di kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).
“Pengampunan ini menjadi pesan kuat bahwa kasih sejati tetap hadir bahkan dalam penderitaan,” tegasnya.
Salah seorang umat, Yuliana, mengaku terharu mengikuti ibadat tersebut.
“Ibadat ini mengingatkan kami akan besarnya pengorbanan Yesus. Saat mencium salib, saya merasa sangat tersentuh dan diajak untuk lebih mengasihi sesama,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Petrus yang hadir bersama keluarganya. Ia menilai Jumat Agung menjadi momen penting untuk memperdalam iman.
“Pembacaan kisah sengsara sangat menyentuh dan membuat kami semakin memahami arti pengorbanan dan pengampunan,” katanya.
Melalui perayaan ini, umat diingatkan bahwa Jumat Agung bukan hanya tentang penderitaan, tetapi juga tentang harapan dan pembaruan iman, yang lahir dari pengorbanan Kristus di kayu salib.(tm1)














