OPINI : UNTUK ARJUNA DAN SRIKANDI DARI TIMUR INDONESIA Oleh : Yoslan Mulki (Coach Panahan Mimika)

TIMIKA, (taparemimika.com) – Besok, atau Nanti cepat Atau Lambat, kalian akan berdiri di garis tembak. Orang-orang hanya melihat beberapa detik ketika anak panah dilepaskan dari Busur Yang Kalian Genggam. Mereka tidak melihat pagi-pagi yang kalian korbankan. Tidak melihat latihan kalian  saat tubuh terasa lelah. Tidak melihat berapa kali kalian gagal, memperbaiki, lalu mengulang lagi.

Dan yang paling sering tidak terlihat adalah perjuangan ketika kalian harus tetap melangkah mtuk berlatih Dgn Perjuangan melawan rasa Malas. Menjelang pertandingan ,i kadang yang paling berat bukan lawan di sebelah.

Bukan jarak target. Bukan angin. Tetapi perasaan bahwa perjuangan sebesar ini seolah olah hanya dipikul sendiri.

Ada atlet yang datang dengan sorakan. Ada yang datang dengan dukungan penuh. Ada yang datang dengan banyak orang di belakangnya. Dan ada kalian yang Datang dengan lelah yang disimpan sendiri.

Datang dengan perjuangan yang tidak banyak diketahui. Datang dengan doa-doa yang bahkan mungkin hanya kalian sendiri yang mengucapkannya. Dan aku ingin kalian tahu sesuatu.

Tidak semua pejuang lahir dari tempat yang ramai. Sebagian justru dibentuk oleh kesunyian. Panahan selalu mengajarkan hal yang sama:

Pada akhirnya, saat berdiri di shooting line, tidak ada yang bisa menarik busur itu selain dirimu sendiri.

Bukan pelatih. Bukan teman. Bukan keluarga. Bukan orang yang pernah berjanji akan mendukung. Hanya dirimu. Dan mungkin justru karena itu, kalian lebih kuat daripada yang kalian sadari.

Jangan takut jika hari-hari ini terasa berat. Jangan takut jika kalian mulai mempertanyakan:

“Aku latihan sejauh ini untuk apa?”

“Apa semua ini akan terbayar?”

“Apa aku benar-benar mampu?”

Percayalah. Hampir semua atlet hebat pernah berdiri di titik itu. Keraguan bukan tanda kalian lemah. Keraguan hanya menunjukkan bahwa ini penting bagi kalian. Kalau nanti saat pertandingan kalian melihat tribun yang tidak penuh. Kalau nanti kalian merasa tidak banyak yang memperhatikan. Kalau nanti kemenangan kalian mungkin tidak dirayakan sebesar perjuangan kalian.

Tetaplah memanah. Karena nilai dari perjuangan tidak ditentukan oleh seberapa ramai orang yang menyaksikan. Tetapi oleh keberanian untuk tetap datang dan berdiri.

Ingat satu hal. Target tidak pernah bertanya siapa yang didukung banyak orang. Target tidak peduli siapa yang datang dengan tepuk tangan paling meriah.

Target hanya menerima satu hal: Anak panah yang dilepaskan dengan fokus. Maka ketika waktunya tiba— Tarik napas. Rasakan pijakan kaki. Dengarkan detak jantungmu. Tarik busurmu seperti ribuan kali yang sudah pernah kalian lakukan.

Lalu lepaskan. Bukan hanya lepaskan anak panahnya. Lepaskan juga takutmu. Lepaskan keraguanmu. Lepaskan beban bahwa kalian harus membuktikan sesuatu kepada semua orang. Kalian tidak datang ke pertandingan untuk membuktikan bahwa kalian pantas.

Kalian datang karena kalian sudah pantas berada di sana. Dan apapun hasilnya nanti— Medali atau tidak. Podium atau tidak.

Aku ingin kalian pulang dengan satu hal: Kebanggaan bahwa kalian tetap berdiri ketika keadaan membuat banyak orang memilih berhenti. Karena menjadi atlet bukan tentang selalu menang. Kadang menjadi atlet adalah tentang tetap datang.

Tetap berlatih. Tetap percaya. Meski dukungan terasa sedikit. Meski perjalanan terasa panjang. Meski terkadang harus berjalan dalam sunyi. Dan jika suatu hari nanti kalian lupa seberapa jauh kalian sudah berjalan— Lihatlah busur di tangan kalian.

Benda itu telah menyaksikan semua air mata, semua lelah, semua perjuangan yang berhasil kalian lewati.  Sekarang waktunya percaya. Kalian lebih siap daripada yang kalian kira. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *