Komisi II DPRK Mimika saat melakukan Kunjungan Kerja di Pabrik Pakan Alternatif dan Pemotongan Sapi dan Kandang Sapi di Kampung Limaru Asri SP 5 dan Kampung Naena Muktipura SP 6, Pada Senin (2/2/2026)/Foto: husyen opa
TIMIKA, (taparemimika.com) – Komisi II DPRK Mimika melakukan kunjungan kerja ke sejumlah fasilitas Pemerintah yang dibangun oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten mimika seperti pabrik pembuatan pakan alternatif di SP6 Kampung Naenamuktipura, rumah potong ayam dan babi serta kandang sapi di Kampung Limau Asri (SP5), Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Senin (2/2/2026).
Dalam kunjungan kerja Komisi II DPRK Mimika tersebut, dipimpim oleh Ketua Komisi II, Dolpin Beanal, Mariunus Tandiseno (Wakil Ketua Komisi), Adrian Andika Thie (Sekertaris Komisi), dan para anggota Komisi II, antara lain Dessy Putrika Ros Rante, Merry Pongutan, Luther Beanal, Stevanus Onawame. Turut mendampingi rombongan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Mimika, Sabelina Fitriani dan jajarannya.
Dalam kunjungan tersebut, Ketua Komisi II DPRK Mimika, Dolpin Beanal mengatakan, hari ini bermaksud melakukan kunjungan kerja ke Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk melihat langsung kondisi bangunan pabrik pembuatan pakan alternatif sekaligus ingin memastikan apa yang menjadi kekurangan dan kendala yang perlu dilengkapi.
Dolfin juga berharap agar Dinas Peternakan dan Keswan bisa memperjuangkan hasil daging dari para peternak di kabupaten Mimika dapat dipermudah untuk memenuhi permintaan daging dari PT Freeport Indonesia melalui PT Pangansari.
“Kami datang ke fasilitas yang dimiliki Dinas Pertanian untuk menindak lebih lanjut program produksi pakan ternak untuk membantu para petani dalam melakukan usaha peternakan, karena selama ini salah satu masalah yang cukup dirasakan adalah mahalnya agar pakan. Karena pakan maka sehingga harga jual daging juga mahal, kami ingin ada sineritas antara DPRK, OPD dan pihak lainnya,”ungkap Dolfin.

Komisi II DPRK Mimika saat berada di Lokasi Tempat Pemotongan Hewan di Sp 5/Foto : husyen opa
Senator Ketua Komisi II, Mariunus Tandiseno menyebutkan bahwa kunker ini merupakan bentuk keseriusan DPRK Mimika dengan Dinas Peternakan dan Keswan untuk dapat melahirkan sebuah terobosan atau Output dari hasil Studi Wakil Banding di Klaten beberapa waktu lalu, yaitu bagaimana kita memproduksi Pakan Ternak sendiri, sehingga peternakan tidak mengalami kesulitan.
“Kehadiran kita disini ingin ada hasil yang benar-benar nyata, kita tidak sekedar melihat atau jalan-jalan tentang bagaimana menghasilkan pakan ternak sendiri di Timika. Kita berharap Adalah salah satu program yang kita hasilkan antara kolaborasi Dinas dan Komisi II DPRK Mimika, harus ada yang bermanfaat untuk sektor peternakan di Mimika,”sebutnya.
Kepala Disnakeswan Kabupaten Mimika, Sabelina Fitriani yang menerima kunjungan tersebut, mengakui bahwa saat ini bahan baku pembuatan pakan masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah. Kondisi tersebut berdampak pada harga produksi yang belum bisa ditekan secara maksimal.
“Iya, jadi bahan baku untuk pembuatan pakan itu masih didatangkan dari luar. Sehingga selisih harga kurang lebih sekitar Rp116 ribu. Ya, bisa dibilang agak lebih miring dibandingkan kalau peternak mengambil pakan dari restoran-restoran,” jelas Sabelina saat ditemui usai kunjungan Komisi II DPRK Mimika.
Meski demikian, Disnakeswan tetap berupaya membantu peternak lokal, khususnya Orang Asli Papua (OAP), melalui program pemberian pakan gratis sebagai bentuk edukasi.
“Kami juga memberikan pakan secara cuma-cuma peternak kepada OAP agar mereka bisa teredukasi dan melihat langsung contoh penggunaan pakan yang baik. Karena bahan-bahan ini semua didatangkan dalam bentuk bubuk,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada tahun 2024 sempat menghentikan pengadaan bahan baku dan lebih fokus pada kegiatan pelatihan serta edukasi kepada peternak. Produksi pakan kembali berjalan pada awal tahun 2025, namun hanya bertahan hingga bulan Mei.
Untuk meningkatkan kapasitas produksi, pada tahun 2026 Disnakeswan berencana menambah peralatan pendukung pabrik pakan. Rencana tersebut merupakan hasil rekomendasi dari rapat dengar pendapat (RDP) serta kunjungan kerja bersama DPRK Mimika ke Klaten beberapa waktu lalu.
“Berdasarkan hasil RDP dan kunjungan bersama bapak dan ibu dewan ke Klaten, tahun 2026 ini kita akan menambah peralatan, seperti mixer yang lebih besar, mesin pelet, dan beberapa alat pendukung lainnya,” kata Sabelina.
“Kami ingin peternak di Mimika tidak lagi terbebani harga pakan yang mahal. Harapannya ke depan pakan bisa diproduksi sendiri di daerah dan kesejahteraan peternak bisa semakin meningkat,” tutupnya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi II DPRK Mimika, Adrian Andika Thie menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan program-program pemerintah daerah di bidang peternakan berjalan sesuai rencana dan benar-benar memberi dampak bagi masyarakat.
“Kami hari ini mengunjungi mitra kerja kami, yaitu Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Agenda utama kami melihat langsung pabrik pakan ternak yang telah dibangun pemerintah Kabupaten Mimika melalui dinas terkait,” ujar Adrian.
Ia menjelaskan, pabrik pakan ternak tersebut dibangun sejak 2024 sebagai tindak lanjut studi banding Komisi II bersama Dinas Peternakan dan Pertanian ke Pulau Jawa. Langkah itu dilakukan untuk mencari solusi atas tingginya harga pakan ternak di Mimika, khususnya pakan babi yang selama ini mencapai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per karung.
“Harapan kami, dengan adanya pabrik pakan ini, harga pakan ternak bisa ditekan sehingga membantu peternak lokal di Mimika,” jelasnya.
Menurut Adrian, salah satu tantangan utama adalah ketersediaan bahan baku. Selama ini bahan baku utama seperti jagung hibrida, konsentrat, dan dedak masih didatangkan dari luar daerah. Padahal, ketergantungan tersebut membuat harga pakan tetap tinggi.

Rombongan Komisi II DPRK Mimika saat berada di Tempat Pabrik Pakan Alternatif Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Mimika di SP 6/Foto : husyen opa
“Karena itu kami berharap Dinas Pertanian bisa bersinergi menyuplai jagung hibrida dari petani lokal, sehingga pakan di pabrik ini benar-benar optimal dan berdampak bagi peternak di daerah,” tambahnya.
Adrian menambahkan, pembangunan kandang sapi saat ini baru mencapai sekitar 30–50 persen. Ia berharap pada tahun 2026 mendatang ada harapan anggaran agar proyek tersebut dapat diselesaikan hingga 100 persen.
“Jangan sampai fasilitas yang sudah dibangun terbengkalai karena efisiensi anggaran. Tiga fasilitas ini pabrik pakan, rumah potong, dan kandang sapi—berpotensi besar mendatangkan PAD serta membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Adrian menegaskan komitmen Komisi II DPRK Mimika untuk terus mendukung program-program strategis pemerintah daerah.
“Kami di DPRK akan terus mendukung mitra kerja agar dapat memberikan kemajuan nyata bagi masyarakat. Pembangunan ini bukan hanya untuk dilihat, tetapi harus dikelola secara profesional dan memberi manfaat langsung bagi kesejahteraan warga Mimika,” tutupnya. (tm1)














